Belum Terlambat untuk Memanggil si Nomor 29

Jumat, 2 November 2018 08:17 WIB

Gelaran Asean Football Federation (AFF) 2018 sudah semakin dekat. Di level senior, hingga saat ini kita masih harus dipaksa untuk terus bersabar, menunggu putra terbaik bangsa mengangkat trofi AFF untuk pertama kalinya. Setelah selalu gagal pada sebelas percobaan sebelumnya, apakah rakyat Indonesia masih bisa optimis pada pagelaran tahun ini?

Dengan catatan 5 kali gagal di final, dan nihil gelar sejak edisi pertama pada tahun 1996. Tentu ada yang salah dengan tim garuda kita. Dalam kasus ini, tidak etis kiranya menjadikan faktor luck sebagai kambing hitam. Setidaknya kita harus berbesar hati mengakui para kompetitor kita lebih unggul dalam 11 edisi sebelumnya. Mungkin lebih unggul secara kualitas, bisa juga dalam urusan mental.

Baiklah, kini saatnya memulai bahasan utama, alasan tulisan ini dibuat, yakni memberikan satu nama yang layak mengisi satu slot squad garuda pada AFF mendatang. Sebelum lebih jauh, mari kita kembali ke kalimat terakhir pada paragraf sebelumnya. Disitu, penulis menyoroti 2 hal, yakni kualitas dan mental, yang merupakan dua kata kunci untuk mengakhiri dahaga sang Garuda.

“Negeri ini tidak pernah kehabisan talenta berbakat”, itu adalah kalimat yang sudah sering saya dengar bahkan sejak masih berada di bangku Sekolah Dasar. Namun sekali lagi, kualitas saja tidak cukup untuk menjadi jawara di Asia Tenggara. Mengatasi Thailand, sang raksasa sepakbola Asia Tenggara, maupun Malaysia sang mimpi buruk abadi Indonesia, tentu mental yang kuat sangat diperlukan. Dengan dasar tersebut, penulis mengedepankan nama Sandi Darma Sute untuk menjadi bagian tim garuda di AFF 2018. Pilihan ini tentu bukan asal-asalan, oleh karenanya mari kita dalami lebih jauh tentang sosok Sandi Sute.

Berada di usia emas seorang pesepakbola, pemain 27 tahun asal Palu ini, memiliki banyak modal untuk berkiprah bersama tim garuda. Menilai kualitas Sandi, tentu terlebih dahulu kita harus menengok capaian Persija Jakarta pada Liga 1 musim lalu. Memang Persija bukanlah kampiun Liga 1 2017, tapi lihatlah Persija menjadi tim yang peling sedikit kemasukan. Hanya kebobolan 24 gol, tentu menjadi catatan yang sangat istimewa. Dan sosok Sandi memiliki andil besar dalam capain tersebut.

Musim lalu yang merupakan tahun pertamanya di tim ibu kota, Sandi Sute langsung menjadi kunci penting dalam skema permainan Stefano Teco Cugurra. Sandi Sute berkembang cukup pesat di bawah tangan dingin Teco. Tidak hanya menjadi seorang breaker yang dihindari penyerang lawan, Sandi kerap menciptakan keypass yang dapat memecah kebuntuan. Tidak heran, jika si nomor 29 dengan paket komplitnya terus menjadi pilihan utama Teco.

Lantas hingga saat ini mengapa Sandi masih belum mendapat panggilan Tim Nasional? Apakah talenta Sandi masih belum terlihat? Apakah performa konsisten Sandi masih belum cukup? Atau tim pelatih masih belum berani memanggil wajah baru untuk mengisi pos di lini tengah? Banyak pengamat yang menilai jika penyebabnya adalah, performa impresif Sandi musim lalu, berbanding lurus dengan gaya mainnya yang “kurang bersih”, dan itulah mungkin yang menjadi salah satu penilaian tim pelatih.

Meninjau statistik, memang Sandi Sute merupakan kolektor kartu terbanyak squad Persija musim lalu. Namun, Sandi Sute di musim ini adalah sosok yang berbeda. Memasuki tahun keduanya di tim ibu kota, Sandi menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih dewasa, dan lebih pintar. Sehingga label “pemain kotor” sangat tidak relevan untuk Sandi Sute saat ini, dan tentu saja hal itu sudah tidak dapat menjadi alasan untuk menunda pemanggilan Sandi Sute.

Berikutnya soal mental. Berhasil membawa Persija menjadi kampiun Piala Presiden 2018 dan turut bersaing di level Asia pada gelaran AFC Cup 2018, tentu menjadi salah satu indikator kuat, jika Sandi Sute sudah cukup siap mengenakan panji Garuda dikancah internasional.

Masih mengenai urusan mental. Sandi Sute memiliki keunggulan, jika dibanding beberapa nama yang saat ini menjadi langganan untuk mengisi pos lini tengah Tim Nasional. Keunggulan itu adalah status Sandi Sute sebagai pemain salah satu tim elit di negeri ini. Bermain di Persija bersama Jakmania nya, tentu Sandi sudah akrab dengan berbagai tuntutan, tekanan, atau bahkan cacian. Dengan demikian dapat dipastikan jika Sandi tidak akan kaget dengan tekanan besar publik kita yang saat ini benar-benar penasaran pada trofi AFF.

Alasan terakhir yang makin menguatkan Sandi Sute adalah, good attitude. Diluar lapangan, bapak dua anak itu dikenal sebagai pribadi yang tidak neko-neko. Dengan statusnya sebagai pemain besar, Sandi tetap down to earth, dan menjauhi berbagai hal yang dapat menimbulkan kontroversi. Sandi yang garang di lapangan adalah pria yang tidak banyak bicara di luar lapangan. Sosok seperti inilah yang diperlukan oleh tim garuda, sosok yang tetap bisa hidup tanpa social media.

Banyak yang menyamakan gaya permainan Sandi dengan seorang Gennaro Gatuso, namun jika melihat gaya permainan dan juga gaya hidupnya, secara pribadi, penulis lebih sreg menyebut Sandi Sute sebagai N’Golo Kante dari Palu. Mari kita berharap tuah Kante dapat menular ke Sandi, sehingga Sandi Darma Sute bisa menjadi nama baru yang mampu mengejutkan para raksasa Asia Tenggara.

Penulis: Dafiq Nur Aziz

Berita Terkait