Jatuh Cinta di Pandangan Pertama

Rabu, 21 November 2018 10:56 WIB

Gelora 10 November Tambak Sari Surabaya, 19 Desember 2007. Ketika itu anak yang masih ingusan berumur Tujuh tahun dan masih duduk dibangku SD. Seorang anak kecil yang buta akan dunia sepakbola dan hanya pandai menonton bola di lapangan desa dengan sepeda kecil hadiah sunat dari ibunya. Hari itu tepat sepulang sekolah dengan wajah gembira Bapak Sani, sapaan akrab anak kecil itu ke Ayahnya, tak seperti biasanya dihari itu Bapak sani tampak begitu bersemangat di raut wajahnya. Ternyata dia mengajak si bocah kecil itu untuk menonton bola untuk pertama kalinya dalam cerita hidupnya.  Tanpa berpikir panjang dan bertanya dulu pada sang ibu, si kecil itu pun mengiyakan dengan penuh semangat. Bergegaslah si kecil itu menghampiri teman-teman mainnya di gang kecil di pinggir kota. Bermaksud ingin membagi kabar gembira bahwa ia akan berangkat ke tambaksari sore untuk menonton bola, wajar bagai orang pertama kali mau berangkat haji dia pun merasakan yang demikian pula. Hanya mendengar dan faham tambaksari dari mulut teman-temannya yang sudah hilir mudik memasukinya, wajar hampir separuh dari teman sekelasnya orang tuanya adalah seorang “bonek” pendukung Persebaya yang sudah akrab dengan Gelora 10 November.

Waktu menunjukkan pukul 13.30 dengan mengendarai motor Aistrea Star ia bergegas menuju Stadion yang selama ini hanya ia dengar dari dongeng temannya itu. Bagai mewujudkan sebuah mimpi anak itu sudah lunas lah dengan mimpinya, bersama sang Ayah dia sampai di Gelora 10 November denqan penuh gairah bak diehard fans. Dengan bangga sang ayah membelikan sepasang jersey anak-anak berwarna biru muda di depan pintu masuk selatan Tambaksari bertuliskan “Charles” dengan nomor punggung Tiga. Ya, itu adalah jersey Persela Lamongan. Hari itu adalah laga uji coba antara Persebaya Surabaya dengan Persela Lamongan, sebuah klub yang digandrungi “bapak sani”. Wajar dia adalah asli orang Lamongan yang merantau di Surabaya untuk menjadi seorang guru di salah satu SMP swasta di kota ini. Selepas memberi si anak mungil itu sebuah jersey pertama dalam hidupnya, sang ayah tak lupa mengajaknya menunaikan sholat ashar disebuah mushola kecil di tepi perkampungan, sang ayah mengajarkan pada sang anak untuk tak lupa pada sang pencipta dimanapun anak itu berada.

Laga bergengsi itupun dimulai, bertajuk “derby jatim” stadion penuh sesak oleh kedua kubu supporter. Bapak dan anak itupun berada di tribun selatan bergabung dengan supporter lain berkaos biru muda yang sedang awaydays ke Tambaksari. Kedua kubu supporter tampak harmonis dengan saling bertegur sapa lewat chant-chant yang menggembirakan. Anak itupun merasakan keindahan sepak bola yang sesungguhnya, dimana dia menjumpai cinta, persahabatan, persaudaraan dan keteladanan. Pengalaman pertama yang tak akan dapat hilang dengan mudah dari ingatan sang anak kecil itu. Laga itu pun sudah memasuki istirahat babak pertama, tapi belum ada gol pun yang tercipta dari kedua kesebelasan. Bagai anak yang masuk taman wisata, si anak kecil itu pun ke sana kemari untuk beli jajanan yang tak pertama kali ia jumpai tapi dengan suasana dan hawa yang pertama kali ia alami. Lumpia, terangbulan, tahu, kacang sudah ia cicipi satu persatu dengan sang ayah. Sungguh sangat membahagiakan

Laga pun telah usai dengan skor 2-2 untuk kedua kesebelasan, laga yang bergengsi yang mempertemukan dua supporter ini beberapa tahun kemudian sempat tak senikmat hari itu, dangan memanasnya hubungan kedua belah supporter, hingga mengakibatkan jatuhnya korban yang tak sangat disesalkan. Hingga akhirnya kini mereka telah bersua kembali bagai “ CLBK” Cinta Lama bersemi kembali.  supporterpun beranjak meninggalkan stadion dengan tertib, akan tetapi di pintu keluar selatan Tambaksari sedikit terjadi tumpukan antrean untuk keluar yang membuat anak itu terjepit dan susah untuk bernafas, si Ayah tak tinggal diam diangkatlah si anak dan digendong di atas pundaknya. Sebuah hal yang berkesan tapi tak membuat niat nya luntur untuk mencintai sepak bola dan klub kebanggaan sang Ayah yaitu Persela Lamongan. Itulah cerita Si Anak Kecil menemukan sebuah cinta bersama sang Ayah..

Anak Kecil nan mungil itu kini beranjak dewasa dan tetap mengingat kisah pertamanya itu dengan penuh bangga telah dianugerahi sang ayah yang mengajarkannya cinta. Terima kasih Bapak Sani dari anakmu Yusran Nur Muwafiq.

Penulis: Yusran Nur Muwafiq

Berita Terkait