Langkah Kecil itu Bermula dari Surajaya

Rabu, 21 November 2018 10:38 WIB

Jika ada orang yang patut dipersalahkan, atas ribuan langkah saya menempuh berbagai stadion. Maka orang tersebut adalah bapak saya. Ribuan langkah itu dimulai dari sebuah tempat di pesisir utara, Jawa timur, kabupaten lamongan, tepatnya stadion surajaya. Dari stadion markas persela lamongan itu langkah demi langkah mulai menggelayuti hati saya untuk mendukung persela lamongan, menjadi bagian dan tumbuh sebagai persela fans.

Kala itu surajaya belum semegah sekarang yang berkapasitas kapasitas 20.000 orang. Kala itu di tahun 2002an, saya masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar, bapak begitu memiliki kecintaan kepada klub kotanya, Persela Lamongan yang berkutat dengan divisi 1. Stadion surajaya menjadi saksi bagaimana perjuangan klub semenjana Persela Lamongan bertarung dari divisi terbawah hingga mampu menapaki kasta tertinggi dalam sepak bola Indonesia, hingga saat ini. Tahun itu 2002, surajaya hanya memiliki 2 tribun untuk penonton disebalah barat dan timur, bahkan di pinggiran lapangan terdapat trotoar yang ternyata berfungsi sebagai drainase, efektifkah ? tidak, setiap musim penghujan surajaya layaknya lapangan tambak lele yang berlumpur. Saya masih ingat betul, bagaimana saya seorang bocah sekolah dasar, terkesima menonton euforia suporter bernyanyi, hingga lonjakan saat bersorak gol, bahkan cacian dan hinaan kepada wasit ketika dianggap berlaku tidak adil, atau makian kepada lawan ketika melakukan pelanggaran maupun mencetak gol. Dari Surajaya kecanduan akan euforia tersebut muncul dan meracuni pikiran saya. Dari surajaya pula membuka stadion-stadion lain berdatangan untuk dikunjungi.

Hari bahagia itu akhirnya tiba, mendukung Persela Lamongan bertanding sebagai tim tamu. Untuk istilah keren pada saat ini, Awaydays. Laga tandang pertama saya yakni Pada 18 Oktober 2003, berangkat bersama bapak saya, dengan nebeng rombongan LA Mania. Laga berlangsung di Stadion Manahan Solo, bagaimana tidak terkesima melihat stadion sebesar Manahan, yang saya tahu hanya stadion surajaya memiliki 2 tribun, timur dan barat. Saya melihat Manahan ibarat raksasa, bertribun mengelilingi lapangan, dan bahkan untuk masuknya saja harus menapaki tangga. Di Stadion Manahan terpatri memori indah kami Persela Fans, menyaksikan haru biru Persela Lamongan lolos Ke Divisi Utama mendampingi Persib Bandung yang harus berjuang di Babak Play off. Dari berbagai stadion, Surajaya tetap menjadi rumah yang minimalis namun nyaman untuk ditempati.

Surajaya ibarat lekangan memori berjalan bagi semua elemen persela Lamongan. Surajaya menjadi saksi bagaimana seorang choirul huda berkembang dan kemudian berpamitan. Surajaya menjadi saksi bagaimana naik dan turunnya karir seorang choirul huda. Dari menjadi pilihan utama pelatih hingga dipinggirkan dibangku cadangan. Choirul huda muda pernah belajar menjadi cadangan, saat posisinya digantikan Kiper senior Ahmad nurosadi hingga i komang putra. Choirul huda dan surajaya pernah merasakan sentuhan magis seorang miroslav janu, yang pada akhirnya membawa klub semenjana ini persela Lamongan meraih prestasi tertinggi di liga Indonesia dengan berhasil menempati posisi ke 4 pada akhir musim 2011-2012. Surajaya tumbuh bersama Choirul huda hingga akhirnya di surajaya pula harus menghadapi ajalnya.

Di stadion surajaya langkah langkah saya bermula untuk mendukung tim kebanggan saya, Persela Lamongan. Dari surajaya beragam kisah dan kenangan terpatri menjadi satu. Surajaya bukan hanya benda mati berupa stadion, ia hidup menyimpan pelbagai kenangan, bagaimana harunya suporter kehilangan seorang legenda choirul huda, ribuan suporter menangis tersedu-sedu pasca laga melawan Persib Bandung tanggal 22 Oktober 2017. Dengan diiringi lagu Endank Soekamti berjudul Sampai Jumpa, Big Screen Surajaya menampilkan bagaimana Choirul Huda lahir,berkembang,dan pergi dari rumahnya, Stadion Surajaya.

Di stadion surajaya segala rasa pernah terkumpul menjadi satu. Dari haru biru kegembiraan, tangisan dan amarah. Stadion surajaya bukan semata soal kesenangan didalamnya, anarkisme pernah menyelimutinya .Persela Lamongan kala itu bertemu dengan klub perserikatan saudara tuanya, persebaya Surabaya. Bapak dengan bersemangat mengajak saya yang kala itu berusia 8 tahun, untuk menyaksikan derby Jawa timur. Betapa terkejutnya saya kala itu, beragam alas kaki terceceran, ratusan pasang jumlahnya, kacamata hitam, dompet, masker, hingga sarung tangan, ternyata telah terjadi kericuhan antara kedua belah suporter. Dari insiden ini, kedua belah suporter menjadi rival, namun menjalin persaudaraan lebih indah bukan, puncaknya pada musim Gojek Liga 1 2018, Surajaya menunjukkan tajinya sebagai rumah bagi semua suporter, kedua belah pihak berdamai.

Dari stadion pelajaran berharga mampu diraih, stadion menyajikan berbagai drama yang ada disekitarnya, baik drama didalam maupun diluar lapangan. Stadion menyajikan berbagai kisah, fanatisme, anarkisme, kesedihan, dan kebahagiaan. Diluar sana, masih banyak orang orang “gila” yang beramai-ramai datang ke stadion, bahkan kadang diluar akal sehat mereka mengesampingkan nyawanya. Diluar sana kecintaan pada klub kebanggan kadang mematahkan logika manusia, bagaimana hanya untuk menyaksikan pertandingan sepakbola selama 90 menit mereka rela menempuh puluhan hingga ratusan kilometer. Menjadi suporter adalah hak setiap manusia, alangkah lebih bijaknya jika kita mampu mentaati setiap peraturan yang ada dalam mendukung kesebelasan favorit kita. Cukup sudah korban nyawa melayang akibat fanatisme buta, stadion bukan tempat meregang nyawa. Stadion adalah tempat bagi kita untuk melihat permainan terbaik yang pernah diciptakan oleh manusia, Sepak Bola !

Penulis:  Afif Yoga Yuliyanto

Berita Terkait