Menempuh 102 Km Menuju Gelora Surajaya

Rabu, 21 November 2018 11:00 WIB

Sekilas menengok kebelakang beberapa tahun yang lalu tepatnya tahun 2011 adalah hari pertama saya pergi ke stadion untuk menonton secara langsung tim kebanggaan saya persela Lamongan di stadion surajaya. Saat itu usia saya masih 18tahun, saya berangkat hanya berdua yaitu saya dengan satu kawan saya bernama awin, kami berangkat dari kota Bangil Kabupaten Pasuruan karena kami menuntut ilmu di salah satu pesantren disana tapi kami asli orang Lamongan. 

Siang itu tepatnya pukul 11.35 WIB kami bertolak dari kota Bangil menggunakan tranportasi umum yaitu bus jurusan terminal purabaya atau lebih dikenal dengan sebutan terminal bungurasih yang berada di luar perbatasan kota Surabaya tepatnya berada di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Setelah kami sampai di terminal purabaya pada pukul 12.25 kami melanjutkan perjalanan ke kota Lamongan dengan menggunakan bus yang berbeda.

Pada pukul 13.15 kami tiba digelora surajaya Lamongan, kami berangkat lebih awal dikarenakan pertandingan dilaksanakan pada pukul 15.30, setelah sampai di stadion kesan pertama yang saya rasakan adalah betapa bahagianya hati ini bisa langsung menonton tim kebanggaan ke stadion berbeda dengan teman saya yang telah beberapa kali pergi ke stadion karena dia berdomisili di Lamongan, sedangkan saya berdomisili di kota Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, karena saya dan keluarga merantau ke luar Jawa.

Sesampainya di stadion, kami bergegas membeli tiket karena takut kehabisan, setelah mendapatkan tiket kami langsung masuk ke stadion karena saya sudah tidak sabar masuk ke dalam, walaupun hanya tiket ekonomi yang mampu kami beli, yang saya heran padahal ini masih siang tapi kenapa para supporter persela yaitu LA Mania sudah membanjiri stadion, padahal kan pertandingan masih lama lagi pula mereka kan juga domisili di Lamongan jadi buat apa berangkat terlalu dini berbeda dengan kami yang berangkat dari luar kota,  dalam hati saya mengatakan demikian.

Akhirnya saya mengerti, mungkin yang mereka rasakan sama dengan yang saya rasakan, mereka juga tidak sabar menyaksikan tim kebanggaannya berlaga sehingga mereka bergegas pergi ke stadion walupun rumah berdekatan dengan stadion. Pukul 13.40 kami sudah berada di dalam stadion dan tempat favorit para supporter adalah tribun timur, walaupun terik matahari menyoroti mata hal ini tidak membuat kami lantas berteduh padahal pertandingan baru akan dimulai kira-kira dua jam lagi, sungguh waktu lama kalau berada dibawah terik matahari yang panas.

Berbeda dengan mereka yang membeli tiket VIP dimana tribun VIP memiliki atap dan tidak menghadap matahari langsung tapi itu lah supporter dimana pun tempatnya bagaimanapun keadaannya kami tak pernah lelah mendukung Persela Lamongan, 30 menit menjelang kick off babak pertama seluruh tribun mulai dipadati oleh para supporter persela yang menamakan diri mereka sebagai LA Mania, mulai dari tribun ekonomi hingga VVIP akan tetapi yang tidak seperti tribun barat atau tribun VIP dan VVIP tribun timur lebih padat, lebih ramai oleh para LA Mania.

Kick off babak pertama dimulai dan para penunggu tribun mulai berdiri tidak ada satupun dari mereka yang duduk, semuanya berdiri mengikuti arahan dari dirigen yang berdiri lebih tinggi didepan tribun timur untuk memandu para LA Mania guna mendukung persela agara bermain dengan semangat yang tinggi, melihat ini hati saya terasa terenyuh hati berkata: seperti inikah supporter sebenarnya, mereka datang ke stadion tidak untuk menonton lebih dari itu mereka mendukung tim kebanggaannya, sorak-sorak nyanyian dari LA Mania begitu menggema selama pertandingan.

Ketika persela akhirnya mampu membobol gawang persegres Gresik nyanyian LA Mania semakin menggebu-ngebu, suara drum bass semakin menggelegar riuh supporter semakin ramai riang gembira menyambut gol ini tak henti-hentinya kami loncat kegirangan, dan akhirnya babak pertama usai, saat jeda istirahat ini lah kami mulai istirahat dengan menyantap jajanan yang dijual dalam stadion yaitu jajanan lumpia sembari melepas lelah, makan lumpia dengan rasa gembira karena persela untuk sementara memimpin pertandingan.

Babak kedua dimulai dan kami mulai berdiri sama halnya seperti yang kami lakukan ada babak pertama tadi, tak banyak yang kami lakukan pada babak kedua ini masih sama dengan babak pertama tadi. Tak terasa 45 menit telah berlalu pertanda pertandingan akan segera berakhir dan alhamdulillah hari itu persela menang atas tamunya persegres Gresik dengan skor telak 6-2 dan mendapatkan point penuh, sungguh rasa lelah ini terbayarkan dengan kemenangan ini.

Usai pertandingan perut terasa lapar dan saya beserta kawan saya awin baru teringat bahwa terakhir kami berdua makan ialah ketika sebelum berangkat masih di pesantren, kami berdua pun tertawa sambil berkata, apa karena tidak sabar pergi ke stadion hingga kami tidak merasakan rasa lapar, akhirnya kami pun mencari warung untuk makan, tidak sulit mencari warung makan karena di sekitar stadion banyak warung-warung makan.

Selesai makan kami pun bergegas mencari bus agar ketika sampai di pesantren kami tidak teralalu larut malam, karena kalau sampai larut maka otomatis kami tidak bisa masuk pesantren karena gerbang sudah pasti di kunci. Dalam bus selama perjalanan saya masih terngiang-ngiang dikepala suara sorak-sorak supporter maklum saja karena ini merupakan kali pertama saya pergi ke stadion, dan saya pikir suatu saat ketika ada waktu saya akan pergi ke stadion lagi.

Itulah sedkit pengalaman saya ketika pertama kali pergi ke stadion 102km jarak yang harus kami tempuh untuk bisa sampai tujuan dan itu kami berangkat hanya berdua

Penulis: Teguh Setia Permadi

Berita Terkait