Pembuktian Sang Juru Gedor

Rabu, 5 Desember 2018 15:25 WIB

Bulan Januari, tepatnya saat Bhayangkara FC menjamu FC Tokyo adalah momen kali pertama saya meihat permainannya. Pertandingan kala itu digelar dalam rangka memperingati  60 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. Turun sebagai starter, permainannya benar-benar menarik perhatian saya.

Kemampuan dribble, penempatan posisi, dan gaya permainan yang kolektif sungguh berbeda dengan penyerang-penyerang lain yang ada di Indonesia. Meskipun dari segi finishing saat itu masih belum maksimal, tapi saya yakin pemain ini memiliki potensi yang luar biasa dan akan sukses di liga Indonesia. David Aparecido da Silva atau lebih dikenal David da Silva itulah yang merupakan sosok penyerang dengan kemampuan luar biasa tadi.

Lahir di Guarulhos, Sao Paulo, Barzil, David sempat mengawali karir di Indonesia dengan cara yang kurang mengenakan. Dia harus dicoret dari skuad Bhayangkara FC di awal musim Liga 1 2018 dengan alasan ketidakcocokan gaya permaianannya dengan kebutuhan tim. Namun, tak lama kemudian ia langsung dipinang klub legendaris Persebaya. Sempat mendapat penolakan dari Bonekmania dan dituding memiliki masalah pada penglihatan, ia mampu membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi juru gedor utama klub berjuluk bajol ijo tersebut.

Alfredo Fera adalah salah satu kunci kegemilangannya sampai saat ini. Coach Fredo merupakan orang yang merekomendasikan penyerang berumur 28 tahun saat itu kepada manajemen Persebaya. Coach Fredo juga yang memberi kepercayaan kepadanya untuk menunjukan kemampuan terbaik demi mendapat kepercayaan dari supporter dan manajemen. Komunikasi yang baik membuat hubungan harmonis dan rasa kecocokan bisa timbul dari pelatih dan pemain ini.

Tidak hanya itu, dari segi taktik Persebaya, gaya permaianan David memang sangat cocok. Kemauan untuk ikut turun ke tengah menjemput bola merupakani salah satu faktor yang menjadi alasannya. Selain itu, kecepatan dan kemampuan dribble pria bertinggi 180 cm ini juga menjadi hal yang membuatnya mudah beradaptasi dengan Persebaya. Kecepatan adalah kunci dari taktik tim yang bermarkas di Gelora Bung Tomo ini, mengandalkan Irfan Jaya di sisi kanan dan Osvaldo haay di sisi kiri tentu mereka harus berdampingan dengan penyerang yang mampu mengimbangi kecepatan keduanya, dan David Da Silva adalah jawabannya.

Permainan umpan-umpan pendek  1 2 tentu menjadi andalan serangan Persebaya. Mobilitas para pemain depan mereka juga akan tetap seimbang dengan kehadiran David sebagai penyerang. Hal ini menunjukan bahwa gaya permainan mereka saat ini sudah lebih modern dan tidak lagi mengandalkan umpan jauh atau umpan silang dengan penyerang yang pasif hanya menunggu di kotak penalti.

Tak melulu soal teknis, dari segi non teknis David juga merupakan sosok yang saya kagumi. Bagaimana tidak, satu sehari menjelang laga Persebaya vs Sriwijaya di Stadion Jakabaring, Palembang, David mendapat kabar yang tidak mengenakan. Sang buah hati, Davi da Silva harus dilarikan ke rumah sakit karena bermasalah dengan perutnya. Sebagai seorang ayah keadaan ini tentu akan mengganggu konsetrasi terhadap pertandingan dan akan memilih untuk izin menemani anaknya. Namun tidak dengan ayah yang satu ini, ia tetap bermain meski harus dilanda perasaan khawatir terhadap keadaan anaknya. Profesionalitas yang luar biasa dari seorang pesepakbola, hal yang sangat jarang dimiliki oleh setiap pemain khususnya di Indonesia.

Saat ini, selain menjadi penyerang utama Persebaya, David juga membuktikan di musim pertamanya ia mampu memuncaki daftar pencetak gol terbanyak di Liga 1 dengan 20 gol. Hal yang tentunya akan sangat disesali oleh kubu Bhayangkara FC karena telah menyia-nyiakan mutiara dari Brazil. Ditambah lini serang mereka saat ini tidak memberikan kontribusi maksimal bagi tim. Sungguh suatu hal yang menyedihkan.

Dengan kompetisi yang hanya menyisakan 1 pekan lagi, bukan tidak mungkin kesempatan David untuk merengkuh gelar pencetak gol terbanyak musim ini akan terwujud. Usaha dan kerja keras memang tidak akan pernah mengkhianati hasil, namun untuk mencapainya dibutuhkan sebuah proses. Jika kita percaya bahwa keberhasilan itu akan datang, maka ia akan datang disaat yang tepat.

Forca David!

Penulis: Randy Fauzi Febriansyah

Berita Terkait