Ricky Fajrin, Terbaik dari Mereka yang Terbaik

Selasa, 23 Oktober 2018 16:01 WIB

Bicara prestasi di dunia internasional, sepakbola Indonesia secara umum memang masih sulit untuk menemukan benderangnya. Namun soal individu pemain berkualitas, ibu pertiwi tidak pernah berhenti dan kekurangan untuk melahirkan bakat-bakat pesepakbola luar biasa yang tidak kalah hebat dengan potensi yang dimiliki negara Asean lainnya. Salah satu posisi yang terus menerus melahirkan potensi individu terbaiknya dari masa ke masa adalah pos bek kiri.  Aji Santoso, satu bek kiri hebat di era-nya yang hingga saat ini namanya tetap harum karena prestasi untuk tim maupun individu. Beralih ke era pesepakbola yang masih sempat saya saksikan aksinya di lapangan macam Ortizan Solossa, Erol fx Iba, dua potensi yang dimiliki ujung timur Indonesia. Lalu ada nama Isnan ali, Mahyadi Pangabean, M. Nasuha yang melambung namanya karena penampilan apik di piala AFF 2010. Namun sayang, cedera lutut yang diderita Nasuha membuat penampilannya tak kunjung konsisten, yang menyebabkan pemain kelahiran Serang, Banten itu harus pensiun dini dari sepakbola profesional. Nama-nama tadi kerap kali jadi pilihan utama di klub masing-masing dan silih berganti mengisi pos bek kiri di TimNas Indonesia. Belakangan tidak banyak nama yang mampu bersinar dan tampil konsisten untuk mengisi pos bek kiri. Namun keputusan operator liga untuk menerapkan regulasi setiap klub wajib memainkan tiga pemain dibawah usia 23 tahun beberapa waktu lalu, nampaknya cukup berhasil untuk membantu potensi pesepakbola bermunculan dan berkembang. Zalnando, Rezaldi Hehanusa dan Ricky Fajrin tiga nama berposisi bek kiri yang terlahir karena diberlakukannya regulasi tersebut. Khusus Rezaldi dan Ricky, konsistensi dan terus berkembang permainan keduanya membuat mereka jadi pilihan utama pelatih Luis Milla untuk memperkuat lini belakang pasukan Garuda di Asian Games 2018 lalu. Namun bila harus menyebutkan siapa bek kiri terbaik yang Indonesia miliki saat ini, maka saya berani katakan nama itu adalah Ricky Fajrin.

Ada beberapa faktor yang membuat saya memilih pemain kelahiran Semarang 23 tahun silam ini ketimbang Rezaldi atau bahkan sosok Ardi Idrus, nama yang belakangan muncul dan diperhitungkan sebagai salah satu bek kiri terbaik karena penampilan apiknya bersama Persib Bandung, yang terus konsisten memuncaki klasemen hingga pekan ke 25 gojek liga 1 2018. Bermain sepakbola di era sekarang ini, jelas sebuah nilai plus apabila pesepakbola bisa bermain dibeberapa posisi, atau sering disebut ‘versatile’. Di eropa sana ada beberapa pemain yang bisa bermain di beberapa posisi dengan sama baiknya, diantaranya David Alaba di Bayern Munchen, seorang bek kiri yang juga mampu tampil apik ketika dipasang sebagai bek tengah, gelandang tengah maupun sayap. Ada juga kapten Timnas Spanyol dan Real Madrid yakni Sergio Ramos yang di awal karier besar dikenal sebagai bek kanan modern yang memiliki kemampuan sama baiknya dalam bertahan dan menyerang, sebelum akhirnya manager el Real saat itu yakni Jose Mourinho mengubahnya menjadi seorang bek tengah tangguh di era ini. Ramos juga sempat bermain sebagai gelandang bertahan di era kepelatihan Carlo Ancelotti beberapa tahun silam. Di Indonesia sendiri tidak banyak pemain yang memiliki kemampuan seperti itu, dan Ricky Fajrin bisa jadi salah satu dari sedikit pesepakbola Indonesia yang memiliki bakat langka tersebut. Selain handal dalam melaksanakan tugas di posisi alaminya, yaitu bek kiri, pemain yang sejak 2015 lalu memperkuat Bali United ini juga mampu tampil apik ketika mengemban tugas sebagai bek tengah. Bahkan pemain yang memiliki tinggi dan ukuran badan ideal untuk pesepakbola Indonesia ini, di Asian Games lalu dominan bermain menjadi seorang bek tengah berduet bahu-membahu dengan sang kapten, Hansamu Yama di jantung pertahanan Garuda. Hasilnya sangat positif dan tentu Luis milla punya andil besar dalam “penemuan baru” ini. Kepiawaian Ricky bermain di posisi berbeda dan sama baiknya ini belum bisa saya lihat dalam diri Rezaldi, maupun Ardi. Ketika membela Persija, Rezaldi memang sempat beberapa kali di tempatkan di beberapa posisi berbeda dan hasilnya saya rasa belum optimal. Begitu pula Ardi yang hampir selalu mengemban tugas menjaga jantung pertahanan sebelah kiri Persib. Kelebihan Ricky lainnya adalah saat bermain sebagai bek kiri, kemampuan dia dalam bertahan dan menyerang sama bagusnya. Ini lagi-lagi sebuah keuntungan untuk penerapan taktik di era sepakbola modern yang menuntut seorang bek sayap tidak hanya handal dalam menjaga pertahanan tapi lihai juga dalam melakukan serangan. Saat bertahan, sapuan/tekelan yang dia lakukan acap kali selamatkan Bali United dari kebobolan. Pressing ketat yang kerap dia lakukan pun sering kali buat penyerang lawan kesal kewalahan. Begitu juga saat membantu penyerangan, kemampuan penetrasi Ricky lewat sayap pertahanan lawan acap kali membuahkan assist bagi dirinya yang mampu memanjakan para penyerang dengan umpan-umpan silangnya, baik saat di klub ataupun di TimNas. Beberapa kali dia juga sempat mencetak gol melalui tendangan lewat situasi open play atau sundulan memanfaatkan keunggulan tinggi badannya dalam skema setpiece, seperti yang dia lakukan ke gawang Laos di Asian Games lalu. Kelebihan itu lagi-lagi belum bisa saya lihat dalam diri pesaing terkuat Ricky di bek kiri, salah satunya Rezaldi. Bicara Rezaldi, seperti apa yang saya baca di beberapa tulisan, pemain yang akrab disapa “bule” ini konon mengawali karier sebagai gelandang serang dan mungkin karena itu pula Bule sangat piawai dan ahli dalam membantu serangan. Ketenangannya dalam melakukan kombinasi passing pendek dipertahanan lawan, melewati hadangan lawan, juga crossing yang sering kali menjadikan peluang gol bagi Persija menjadi kekuatan pemain yang selalu terlihat tersenyum saat melakukan lemparan kedalam ini. Tendangan jarak jauhnya yang tak jarang berbuah gol menjadi kelebihan lain yang dimiliki. Namun kelebihan atribut Bule dalam menyerang ini nampaknya belum bisa diimbangi dengan kemampuan bertahan dengan sama baiknya. Mungkin karena memulai karier di posisi yang tidak terlalu dituntut fokus dalam bertahan membuatnya agak sedikit kagok dan belum terbiasa bermain diposisi yang mengharuskan dia bertahan dengan baik. Karena hal ini juga sepertinya Luis Milla lebih memilih menurunkan Bagas Adi atau mengembalikan posisi Ricky Fajrin ke bek kiri dan menyimpan Bule di bench saat Timnas beberapa kali berhadapan dengan kesebelasan yang memiliki kemampuan menyerang sangat baik. Berjalannya waktu apa yang saya anggap kekurangan dari Bule ini tentu sangat bisa teratasi. Apalagi melihat potensi yang dia miliki, usia muda dan yang terpenting bule punya seorang mentor yang bisa secara langsung dia temui. Ya, dia seorang Ismed Sofyan, salah satu bek kanan terbaik yang pernah Indonseia miliki. Tidak hanya piawai dalam menjaga area pertahanan sebelah kanan, tapi pemain yang tak lama lagi menginjak kepala empat ini memiliki atribut menyerang yang mengagumkan. Bicara Ismed dimasa jayanya, tentu tak lengkap bila tak membahas kepiawaiannya dalam melepaskan tembakan jarak jauh dan mengeksekusi bola mati. Semoga banyak ilmu yang bisa Rezaldi serap dari sosok Ismed sebagai pesepakbola.

Dengan beberapa faktor tersebut tentunya sangat mudah untuk mengatakan bahwa Ricky memang bek kiri terbaik di Indonesia saat ini. Terlepas dari itu, semoga performa luar biasa yang ditampilkan Ricky, Rezaldi, Ardi dengan kelebihan masing-masing yang mereka miliki bisa terus konsisten dan meningkat. Tentu bukan hanya mereka, tapi semua pesepakbola potensial yang dimiliki ibu pertiwi saya pribadi dan juga tentu semua pecinta sepakbola di Indonesia umumnya harapkan bisa terus berkembang. Sampai titik dimana perjuangan mereka membuat sepakbola tanah air “tersenyum” dan “harum” di skala internasional bukan lagi hanyalah mimpi.

Penulis: Rexy Aliansyah

Berita Terkait