Sisi Lain


Kerisauan Itu Bernama Tarkam

Kerisauan Itu Bernama Tarkam

25 November 2020

SHOPEE LIGA 1 2020

Oleh: Hanif Marjuni
Corporate Media and Public Relation Manajer LIB

 

Sulit dihindari. Sulit, sungguh sulit.

Jika kita menyimak pemberitaan media olahraga selama sepekan terakhir, ada satu fenomena yang terjadi serempak. Fenomena itu menjalar di berbagai kota yang gila sepak bola. Yakni banyaknya pebola profesional yang ikut dalam pertandingan amatir. Ada yang menyebutnya juga sebagai turnamen antar kampung alias tarkam.

Lantas, bukankah tarkam itu haram hukumnya buat pebola profesional?

Tunggu dulu, mas bro! Jika acuannya pada disiplin dan profesionalisme seorang atlet, anggapan itu bisa dibenarkan. Pemain sudah terikat dengan kontrak profesional. Lebih dari itu, risikonya akan sangat tinggi jika pemain profesional hadir di turnamen yang konon sering disebut sebagai ajang abal-abal. Pebola bisa rentan cedera. 

Akan tetapi, situasi yang terjadi saat ini masuk kategori extraordinary. Kondisi yang luar biasa. Sejak Maret lalu, praktis semua kegiatan sepak bola profesional di negeri ini, harus dihentikan. Dari Liga 1, Liga 2, hingga Liga 3. Semua berhenti total dengan alasan pandemi Corona.

Diakui atau tidak, putusan itu memunculkan beragam dampak. Betul, tidak muncul cluster baru yang disebabkan kegiatan sepak bola. Ini bisa dimaklumi.

Logika sederhananya, suporter, penonton, atau stakeholder lain yang selama ini berkumpul dan terlibat langsung dalam pertandingan sepak bola, tidak lagi (bisa) bertemu. Apalagi, harus berangkulan atau berdekatan. Semua terdiam pada posisi, kegemaran dan pilihan masing-masing. 

Pada konteks lain, pebola hanya bisa terdiam seribu bahasa. 

Betul, bahwa nyaris sebagian besar pekerjaan lain kena dampaknya. Bukan hanya pebola yang terdampak, profesi lain yang biasa berhubungan atau berhadapan langsung dengan publik, hampir mati kutu. Semua dikerjakan secara Work From Home (WFH). Kira-kira seperti itulah yang terjadi.

Kembali soal pebola dan tarkam. Di titik ini, pebola cuma bisa terdiam dan menunggu kompetisi bergulir itu. Jelas ini menjadi situasi yang sangat membosankan. Jenuh. 

Pada saat yang sama, beberapa klub ada yang meminta pemainnya tetap menjalani latihan rutin. Tanpa kecuali. Kalau perlu, dimonitor secara online. 

Di sinilah persoalan lain muncul. Bagi pemain, latihan tanpa bertanding, seperti menikmati sayur tanpa garam. Kurang berselera, kurang greget! 

Apa pun kondisinya, pebola itu butuh bertanding. Baik itu yang kadarnya resmi atau tak resmi. Butuh itu karena kondisi dalam pertandingan itu sangat diperlukan untuk menjaga insting, ball feeling, dan passion. Sekali lagi, passion.

Nah, semua itu hanya bisa dipertahankan, ya salah satunya, dengan cara ikut tarkam, fun game atau apalah nama lainnya. 

Dalam sebuah diskusi yang kebetulan saya terlibat secara langsung, pelatih kawakan Rahmad Darmawan bersuara soal tarkam. 

Ia berujar, “Pemain butuh semacam pengakuan diri. Mereka butuh menerjemahkan passion dalam sebuah laga. Ada lawan, ada kawan, ada penonton. Tapi perlu diingat, tarkam bisa juga memunculkan risiko yang tinggi,” jelasnya, pekan lalu.

Respon klub soal tarkam, relatif beragam. Ada klub yang mengizinkan dengan berbagai catatan. Ada juga yang secara terang-terangan tak menginginkan pemainnya berlaga di tarkam. Alasan logisnya, lagi-lagi karena tarkam membahayakan.

Salah satunya Bhayangkara FC. Mereka mengimbau pemainnya agar tak ikut tarkam. “Untuk para pemain, sekarang lebih baik mengikuti saja program yang dibuat oleh tim pelatih untuk menjaga kondisi,” ujar Chief Operating Officer (COO) Bhayangkara FC, Kombes Pol. Sumardji pada rilis resmi klub.

Nah, sekarang jika pertimbangannya tarkam dibutuhkan untuk tambahan pemasukan, apakah sang pemain tetap dilarang atau diizinkan? Sangat sulit untuk menjawabnya. Apalagi jika urusannya dengan dapur. 

Buntutnya serba dilematis. Urusan profesionalisme dan ketakutan akan cedera, idealnya pemain tidak ikut tarkam. Tapi bila mempertimbangkan pemain butuh suasana bertanding dan tambahan pemasukan (karena pendapatan berkurang drastis, red), rasanya pemain sah-sah saja untuk hadir di tarkam atau sejenisnya. 

Asalkan sang pemain tahu diri. Siapa lawan yang dihadapi, seperti apa kondisi lapangan yang dipakai, dan izin dari klub. Soal izin klub, mutlak diperlukan. Biar aman dan win-win solution. 

Sekali lagi, ini opini pribadi ya.

Bagaimana dengan opini anda?



Berita Terbaru