Sisi Lain


Pesan Tersirat Dari Ujung Jalan Pramuka

24 July 2020   10:06:43
Pesan Tersirat Dari Ujung Jalan Pramuka

SHOPEE LIGA 1 2020

Oleh: Hanif Marjuni
Media dan Public Relation PT LIB

Keraguan itu sering muncul. Nyaris di banyak media, kerap dituliskan bahwa kompetisi Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2 2020, kecil kemungkinan bisa berlanjut.

Perkaranya sepele. Bukan melulu soal persiapan biaya dari semua kontestan, kebugaran pemain, atau standar pengamanan. Tapi ada masalah lain yang jauh lebih komplek. Lebih rumit. Pun lebih menakutkan. 

Yakin lampu hijau dari pemerintah alias izin dari satuan tugas Gugus Covid-19
Keraguan -lebih tepatnya ketakutan- itu logis. Beberapa daerah asal muasal banyak kontestan kompetisi yang masih berwarna merah. Dengan kata lain, angka pandemik penyebaran corona masih tinggi. Statistiknya, jauh di atas tiga atau empat bulan yang lalu.

Drastis.

Adalah komunikasi yang dijalin antara PSSI, PT LIB dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Rabu (22/7) lalu. Lokasi pertemuan itu di lantai 10 Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kantor megah yang terletak di ujung jalan Pramuka, Jakarta Timur. 

Kebetulan pada kesempatan itu, saya berada di dalam ruang untuk mendampingi perwakilan PSSI dan PT LIB saat menemui Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo. Komunikasi itu cair.

Tidak ada ketegangan atau ketakutan yang berlebihan dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dengan rencana bergulirnya kompetisi sepak bola. Baik itu Liga 1 atau Liga 2. Isu-isu pesemistis seperti yang dimunculkan beragam media sebelumnya, sama sekali tak terlihat. Sebaliknya, mereka mendukung. Malah, mendukung penuh.

Logika yang dipakai sederhana
Kira-kira begini. Dari sepak bola, kampanye perubahan perilaku itu akan sangat efektif. Mudah terkirim ke masyarakat. Cepat dan tepat sasaran. Maksudnya, dengan popularitas yang disandang para pelaku selama ini, kampanye ‘empat sehat lima sempurna’ itu lebih mudah tersampaikan. Kampanye itu meliputi pentingnya memakai masker, menjaga jarak, selalu cuci tangan, melakukan olahraga yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. 

Pada sisi yang lain, Satuan Tugas Gugus Covid-19 juga memberikan pernyataan tegas. Kompetisi bisa lanjut asalkan memerhatikan protokoler kesehatan. Tentu, dalam hal ini, semua pertandingan digelar tanpa penonton.

Pesan itu sangat sederhana. Tapi, sarat makna. Diakui atau tidak, kini seluruh stake holder sepak bola nasional harus punya sudut pandang yang sama. Federasi, operator kompetisi, klub, pemain, sampai dengan suporter punya tanggung jawab yang serupa; melanjutkan kompetisi tanpa memperburuk situasi.  Syukur-syukur, menurunkan angka pandemi Corona.

Itu bukan pekerjaan dan tanggung jawab yang ringan. Tapi, tak mustahil akan bisa dilakukan dengan baik dan sempurna. Kuncinya cuma satu; DISIPLIN. Klub dan pemain, disiplin dengan aturan kesehatan yang sudah ditentukan. Mulai dari Swab test, pola latihan, menjelang dan usai pertandingan, sampai dengan protokoler kesehatan yang detail di aktivitas keseharian. Itu harus dipatuhi selama kompetisi bergulir, bos! Tanpa kecuali.

Idem ditto dengan penonton atau suporter. Tak usah datang ke stadion. Tak perlu mengadakan nobar dalam jarak yang berhimpitan. Kalau memang tak bisa ditahan, ya nonton bareng dengan ketentuan jaga jarak. Tetap patuhi protokoler kesehatan. Pakai masker, mas bro.    

Berat memang, tapi itu harus dilakukan. 
Betul, semuanya akan tidak nyaman. Tidak se-normal seperti biasanya. Tidak bisa berkumpul di tribun yang sama. Tidak bisa merayakan kemenangan sambil berpelukan, sorak-sorai, atau bernyanyi sepanjang jalan. Tapi, tolong diingat, situasi sekarang tidak normal. Dan, perlu diselesaikan dan dijalani dengan cara yang ‘tidak normal’ pula. Semoga.

“Hidup itu bukan mengenai seberapa berat masalah yang datang menghampiri kita, namun mengenai seberapa positif kita mampu merespon segala permasalahan tersebut,” pesan Bambang Pamungkas, pada sebuah kesempatan.



?>