Dentuman Menggelora Hari Nur Yulianto

Jumat, 2 November 2018 08:14 WIB

Gelaran Liga Indonesia (Liga 1) telah memasuki pekan ke-27 dari total 34 pekan yang ada dalam satu musim kompetisi. Persaingan ketat semakin terlihat oleh semua tim, baik di papan atas maupun di papan bawah. Mereka saling berjuang untuk meraih prestasi maupun menghindari degradasi. Semangat tak henti juga ditunjukkan oleh pemain di masing-masing klub. Tentunya dengan beragam motivasi. Mulai dari memajukan tim daerah asal, menembus level tim nasional (timnas), maupun faktor ekonomi dengan iming-iming gaji yang tinggi.

Liga yang kompetitif akan menghasilkan output yang bagus. Seperti itulah konsep yang coba dibangun oleh federasi yang menaungi sepak bola di negeri ini. Salah satu output yang diharapkan adalah hadirnya pemain-pemain yang bertalenta dari Sabang hingga ke Merauke. Dengan hadirnya putra terbaik bangsa tersebut, outcome pun akan tercapai sebagai hasil dari kompetisi bal-balan ini. Ya, prestasi tim nasional (senior) yang sudah lama kemarau sejak menjuarai Sea Games ke-16 yang diselenggarakan pada tahun 1991 di Manila, Filipina. Selama lebih dari 2 dekade kita sudah haus akan gelar tertinggi di semua kompetisi internasional yang kita ikuti.

Mengenai siapa muka baru yang pantas membela timnas di gelaran Piala AFF 2018 ini, saya memilih talenta yang sedang naik daun yaitu Hari Nur Yulianto. Putra asli Kendal kelahiran 31 Juli 1989 ini mungkin namanya baru saja terdengar. Hal itu menjadi maklum karena selama ini Hari Nur membela PSIS Semarang yang selama 9 tahun berada di kasta kedua liga sepak bola di negeri ini. Mukri (panggilan akrabnya) mengawali karir di klub-klub lokal Jawa Tengah yaitu mulai dari PSCS Cilacap (2010), Persibas Banyumas (2011), dan Persibangga (2012). Bakatnya mulai tercium oleh coach Firmandoyo sehingga Hari Nur mendapat panggilan untuk membela tim sepakbola Jawa Tengah di PON XVIII di Riau. Bersama rekan-rekannya, Hari Nur membawa tim sepakbola Jawa Tengah menduduki peringkat ketiga dengan menundukkan tim Papua. Hari Nur sendiri yang menjadi penentu kemenangan berkat golnya di menit ke-90.

Pada waktu itu sudah menjadi hal yang lazim jika jebolan tim PON menjadi komoditas yang berharga bagi klub-klub sepakbola di daerah. PSIS yang notabene merupakan salah satu tim besar yang berada di Jawa Tegah mendapat berkahnya dengan mendatangkan beberapa pemain dari tim PON Jateng. Meskipun saat itu PSIS masih berada di divisi dua sejak terdegradasi di tahun 2009, tim ini masih menjadi daya tarik bagi para pemain eks PON untuk memulai karir profesional sepakbola mereka. Tidak tanggung-tanggung sebanyak 8 pemain direkrut oleh PSIS, termasuk Hari Nur Yulianto dan Fauzan Fajri yang kini masih menjadi rekan setimnya di jantung pertahanan PSIS Semarang.

Bergabung ke PSIS Semarang tidak serta merta menjadikan Hari Nur sebagai pilihan utama. Berkat usaha kerasnya, sedikit demi sedikit pemain ini mulai mendapatkan menit bermainnya di lapangan. Gol demi gol mulai dia torehkan untuk PSIS Semarang. Namun, bersama PSIS dia harus bersabar untuk mencapai level sepakbola tertinggi. Sempat terkena skandal sepak bola gajah di tahun 2014, tidak menggoyahkan tekad Hari Nur untuk hengkang dari klub ini. Namanya pun makin dielu-elukan publik sepakbola Semarang dengan keputusannya untuk tetap membela tim daerahnya.

Kesempatan berlaga di Liga 1 pun tiba, Hari Nur dkk mengantar PSIS menduduki peringkat 3 pada gelaran Liga 2 tahun 2017. PSIS Semarang berhasil menjungkalkan Martapura FC dengan skor 6-4 melalui babak perpanjangan waktu. Apa kontribusi Hari Nur? Ya, pemain ini menjadi hattrick hero!! Tangis bahagia pecah ketika wasit meniup peluit panjang. Penantian selama hampir satu dekade akhirnya tercapai juga. PSIS berhasil menembus Liga 1 di tahun 2018. Ekspektasi publik Semarang saat itu adalah mempertahankan skuad yang ada termasuk mempertahankan pujaan mereka King Hari (sebutan Hari Nur yang lain). Hari Nur pun menjawabnya dengan melakukan perpanjangan kontrak di PSIS Semarang.

Pada awal musim di bawah kepemimpinan coach Vincenzo Alberto Annese, Hari Nur selalu menjadi pilihan utama di ujung tombak penyerangan PSIS Semarang. Bersama Bruno Silva dan Bayu Nugroho, mereka membentuk trisula yang mematikan bagi lawan-lawannya di gelarang Liga 1. Perjuangan Hari Nur dkk untuk mengangkat prestasi PSIS tidak mudah. Menjadi tim baru di Liga 1 ternyata menjadi ujian mental tersendiri bagi para pemain PSIS. Mereka sempat terseok-seok di papan bawah klasemen. Seiring dengan pergantian pelatih ke coach Jafri Sastra, tidak menjadikan posisi Hari Nur lengser dari ujung tombak. Malahan, Mukri mendapat kesempatan mengemban jabatan kapten di dalam tim. Motivasi Hari Nur pun meningkat dalam menjalani laga per laga kompetisi.

Hingga pekan ke-27 ini Hari Nur sudah menyumbangkan 10 gol untuk PSIS Semarang dan bertengger di peringkat 7 daftar sementara pencetak gol terbanyak. Apabila daftar pencetak gol terbanyak hanya melihat pemain lokal saja, Hari Nur akan berada di  posisi 1 bersama dengan Samsul Arif (Barito Putra) dan Stefano Lilipaly (Bali United) yang sama-sama mencetak 10 gol. Hal ini menjadi sebuah prestasi yang layak mendapatkan ganjaran membela timnas di ajang Piala AFF 2018. Mungkin bisa menjadi gambaran bagi coach Bima Sakti untuk mempertimbangkan nama Hari Nur tergabung dalam timnas.

Mungkin di usianya yang sekarang termasuk terlambat apabila mulai merintis karir di tim nasional. Namun, hal ini bisa menjadi keuntungan tersendiri. Tanpa pernah tergabung dalam timnas di kelompok usia mungkin bisa menjadi efek kejut bagi para kontestan lain. Kita ingat Boaz Salosa di tahun 2004 menjadi sebuah senjata mematikan bagi Indonesia dalam menggedor pertahanan lawan-lawannya. Keuntungan lain dari bergabungnya Hari Nur adalah selain bisa ditempatkan di ujung tombak, dia bisa berposisi melebar ke samping lapangan. Ditunjang dengan akselerasinya dalam mendribble bola dan akurasi umpan silangnya yang cukup bagus membuat timnas memiliki banyak opsi di sayap maupun di penyerang tengah.

Berkat penampilannya yang trengginas, saat ini PSIS mulai dibawanya naik menjauhi zona degradasi. Penampilannya yang impresif seharusnya bisa membuatnya bersaing dengan wajah-wajah lama yang menjadi langganan timnas. Dengan kehadiran wajah-wajah baru ini semoga bisa memberikan suntikan semangat yang lebih untuk timnas mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi. Bravo Hari Nur! Bravo Timnas!

Penulis: Farkhan Wisnu Wardhono

Berita Terkait