Keith Kayamba Gumbs: Bukan Sekedar Pelabuhan Akhir Karier

Rabu, 5 Desember 2018 15:26 WIB

Bicara soal pemain asing, kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia pernah kedatangan banyak sekali nama-nama besar dari berbagai penjuru dunia. Salah satu sosok yang pasti diingat mayoritas penikmat sepak bola adalah Keith Kayamba Gumbs. Nama Gumbs pernah menghiasi gelaran sepak bola nasional selama periode 2007 hingga 2013.

Pemain berkewarganergaan Federasi Saint Kitts dan Nevis ini sudah melanglangbuana ke berbagai benua selama 24 tahun perjalanan karier sepak bolanya. Memulai debut bersama klub lokal bernama Newtown United, petualangan striker kelahiran 11 September 1972 itu berlanjut ke liga di berbagai belahan dunia di antaranya Eredivisie bersama FC Twente, Liga Inggris dengan Hull CIty dan Serie A Brasil membela Palmeiras. Di penghujung karier, ia akhirnya memutuskan berlabuh ke Indonesia.

Penulis kali ini tak akan membahas perjalanan karier Gumbs secara panjang lebar, melainkan hanya berfokus pada perjalanannya saat membela dua klub tanah air, Sriwijaya FC (SFC) dan Arema Malang. Aksi-aksi heroik ala Gumbs memang menjadikannya sebagai pemain asing paling berkesan menurut Penulis dan mungkin juga sebagian besar penggemar sepak bola nasional.

Kali pertama diperkenalkan di depan publik Palembang, nama Gumbs sejatinya terdengar cukup asing. Dibanding dengan deretan nama yang mengisi skuad Laskar Wong Kito kala itu, sebut saja Ferry Rotinsulu, Charis Yulianto, Renato Elias atau Christian Lenglolo, sosok Gumbs kala itu sempat dianggap sebagai sekedar pelengkap dalam racikan formasi pelatih Rahmad Darmawan.

Anggapan itu langsung dimentahkannya di musim perdana. Gumbs sukses membawa SFC meraih double winner di musim 2007/08. Ia menjadi salah satu pemain paling vital yang mengantarkan tim merengkuh trofi Liga Super Indonesia dan Piala Indonesia secara bersamaan di tahun tersebut.

Naluri gol tinggi, kekuatan fisik yang masih prima di usianya yang tak lagi muda, serta determinasinya yang tinggi adalah berbagai elemen yang menjadi kekuatan utama Gumbs. Belum lagi kualitas leadership-nya yang begitu terasa baik di dalam maupun luar lapangan juga turut menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan tim yang bermarkas di Stadion Jakabaring (kini Stadion Gelora Sriwijaya) tersebut. Jangan lupakan pula peran vitalnya ketika pernah merangkap sebagai pemain sekaligus asisten pelatih (pelatih fisik) di musim 2011/12.

Sukses mengoleksi 74 gol dari 145 penampilan bersama SFC, Gumbs kemudian melanjutkan petualangannya dengan hijrah ke Arema di tahun 2012. Pemain terbaik Piala Indonesia 2010 ini disandingkan di lini depan Singo Edan bersama dua nama beken lainnya, Cristian “El Loco” Gonzales dan Beto Goncalves. Kembali dinakhodai Rahmad Darmawan, Gumbs masih sanggup bersain di level tertinggi meski usianya kala itu telah menginjak kepala empat.

Total tujuh trofi untuk klub beserta lima trofi individu adalah rangkuman apik karier Gumbs di Indonesia. Ia membuktikan kalau keputusannya datang ke Indonesia bukan sekedar sebagai pelabuhan akhir karier sepak bolanya. Performa tokcer nan konsisten yang dibarengi dengan rentetan prestasi menjadikan masa-masa penghujung kariernya berkilau di nusantara ini.

Bukan ingin membanding-bandingkan, nama-nama lebih besar yang pernah hadir di Indonesia semisal Michael Essien atau Marcus Bent. Sama seperti Gumbs yang memasuki periode akhir dalam kariernya, Essien dan Bent yang sejatinya berstatus megabintang di Eropa dan digadang-gadang mampu berprestasi malah melempem ketika berlaga di sini.

Keith Kayamba Gumbs sukses membuktikan bahwa Indonesia, bukanlah sekedar pelabuhan terakhir dalam karier sepak bolanya. Bravo, Kayamba!

Penulis: Reynaldi Manasse

Berita Terkait