Notohadinegoro, Tonggak Penyibak antara Maya dan Nyata

Rabu, 21 November 2018 10:48 WIB

Telatah Tapal Kuda, medio awal 2000an.

Bagi kami yang lahir, tumbuh besar, dan menetap di daerah paling timur Pulau Jawa, gaung sepakbola--khususnya Liga Indonesia--merupakan sesuatu yang maya. Bagaimana tidak Persewangi Banyuwangi, Persebo Bondowoso, dan PSSS Situbondo hanyalah klub gurem diblantika jagat persepakbolaan. Waktu itu mereka kompak berjuang di Divisi 3 yang merupakan kasta sepakbola terendah di Indonesia.

Akses untuk memperoleh informasi yang belum semudah saat ini turut mendukung opini saya tentang ke-maya-an gaung sepakbola Liga Indonesia di eks Karesidenan Besuki. Mayoritas rumah belum mempunyai televisi (termasuk saya), koran dan tabloid olahragapun hanya bisa didapat kalau kami pergi ke ibukota kabupaten. Jadilah klub besar dan pemain dengan nama-nama tenar hanya sayup-sayup sesekali terdengar.

Sulit mencari apa yang bisa dibanggakan dari ketiga klub Tapal Kuda di atas, kecuali bab kefanatikan daerah. Namun, warga Tapal Kuda mempunyai satu klub lagi dari daerah Jember. Persid Jember, dan dari klub inilah semua bermula.

Liga Indonesia musim 2003. Persid mampu menembus ketatnya persaingan untuk berlaga di Divisi 1. Sebuah kebanggaan karena waktu itu Divisi 1 hanya setingkat di bawah kasta tertinggi sepakbola Indonesia, Divisi Utama. Berkat Persid-lah gaung Liga Indonesia yang selama ini terdengar sayup-sayup nun jauh di sana bisa terdengar lebih semarak hingga ke ujung timur Pulau Jawa.

Diperkuat mantan bintang Persebaya, Putut Wijanarko; Rising star lokal, Trias Budi Susanto; Hingga pemain asing asal Brazil, Wanderley Junior, Persid tergabung dalam satu grup bersama salah satu klub besar Indonesia yang baru saja terdegradasi, Persebaya Surabaya. Di tengah minimnya informasi, tetap saja nama besar Persebaya mampu menembus sekat jarak hingga ke Tapal Kuda. Sehingga begitu tersiar kabar dari mulut ke mulut bahwa Persid satu grup dengan Persebaya, gegerlah para pecinta sepakbola di Jember dan sekitarnya.

Regulasi mengharuskan setiap klub harus bertanding tandang dan kandang, sebelum babak 8 besar, semifinal, dan final. Hal itu tentu saja mewajibkan Persebaya untuk away ke Stadion Notohadinegoro, kandang Persid Jember. Tanggal main sudah dirilis, dan tentu itu adalah hal yang sangat sayang sekali kalau dilewatkan. Nama besar Persebaya akan melawat ke Jember dan belum tentu akan terulang kembali setiap tahunnya. Masalahnya adalah saya waktu itu masih duduk di bangku SMP kelas 1, sekolah sore pula. Tinggal di Bondowoso yang berjarak sekitar 20 km dari Jember. Segala cara, siasat, dan strategi harus kupikirkan agar bisa menonton laga itu.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ayah mengizinkan saya, bahkan menemani langsung untuk menonton pertandingan tersebut. Sekolah, bolos dulu barang sehari. Jarak 20 km ditempuh berdua selepas dhuhur dengan motor. Pikiran tak karuan. Persebaya, Persid, Bonek, dan yang terpenting nonton langsung di stadion. Sebenarnya itu bukan kali pertama saya menonton pertandingan sepakbola di stadion, namun kalau konteksnya adalah Liga Indonesia--apapun divisinya--, maka bisa dibilang itulah debutku.

Stadion Notohadinegoro merupakan stadion terbesar di Tapal Kuda (setidaknya pada waktu itu). Wajar karena memang baru direnovasi untuk merayakan kelolosan Persid hingga Divisi 1. Namun tetap saja stadion tersebut tak bisa menampung animo masyarakat yang ingin menonton Persid vs Persebaya. Berni (Jember berani, nama suporter Persid) bukan saja diisi warga Jember, namun juga kabupaten sekitarnya. Bonekpun juga away days dengan jumlah yang sangat banyak. Belum lagi suporter netral seperti saya yang datang untuk ikut merasakan atmosfer langsung pertandingan.

Momen itu tak terasa telah berlalu 15 tahun yang lalu. Kapan tanggal pasti serta berapa harga tiket, maaf saya sudah lupa. Tapi yang tak terlupa adalah tentu saja atmosfer baik di dalam maupun luar stadion yang terletak sedikit di sebelah utara Kota Jember itu. Bagaimana desak-desakkannya saat antre tiket maupun masuk dan keluar stadion, saya--dengan tinggi yang tak seberapa--harus berdiri agar pandangan tak tertutupi penonton depan, chants dari kedua suporter selama pertandingan, saling adu serangan antar kedua kesebelasan, hingga lempar-lempar botol dan sandal yang "tak boleh ketinggalan".

Pertandingan sendiri dimenangkan oleh tuan rumah dengan skor 1-0 lewat gol semata wayang Putut Wijanarko. Di akhir musim Persebaya mampu tampil sebagai jawara dan berhak promosi ke tempat dimana dia seharusnya berada, sedangkan Persid hanya nyaris promosi untuk pada tahun-tahun selanjutnya terseok-seok hingga terjerembab ke dasar divisi dan kini berlaga di Liga 3.

Biar bagaimanapun. Terima kasih Persid, juga Stadion Notohadinegoro. Kalau bukan karena kalian entah kapan saya bisa merasakan atmosfer pertandingan Liga Indonesia langsung dari stadion. Menyaksikan langsung Persebaya dan Bonek yang selama ini hanya terdengar kasak-kusuk di telinga. Bolos sekolah secara "legal" tanpa harus berbohong kepada orangtua. Serta membuka cakrawala baru tentang apa dan bagaimana Liga Indonesia itu, secara umum bagi warga Tapal Kuda dan secara khusus bagi saya.

Cepat bangkit kembali Persid, dan tetap tegak berdirilah Stadion Notohadinegoro, walau kini di Jember telah ada stadion yang lebih baru, besar, dan megah.

Penulis: Wahyoko Fajar

Berita Terkait