Sisi Lain


Metamorfosis Ala Bonek Mania

Dibuat tanggal 09 August 2019
Metamorfosis Ala Bonek Mania

SHOPEE LIGA 1 2019 PERSEBAYA

Oleh: Hanif Marjuni
(Media dan Public Relation PT LIB)

“Bonek itu susah diatur, lusuh, dan suka bikin onar.” Komentar itu muncul dari salah satu sopir angkutan umum di Surabaya, akhir Juli 2019. Sampai saat ini, ia masih menilai bahwa Bonek Mania merupakan komunitas yang banyak mudaratnya.

Barangkali anggapan sang sopir tersebut mewakili ribuan penikmat bola di negeri ini. Persepsinya serupa: Bonek datang, rusuh bermunculan.

Masifnya anggapan itu bisa dicermati ketika ada pertandingan away yang dilakoni Persebaya Surabaya. Beberapa kota sudah melemparkan warning terlebih dulu agar Bonek Mania tidak datang. Opsi lain, Bonek boleh datang asalkan ada penjagaan yang sangat ketat dari aparat keamanan. Benarkah Bonek Mania masih seperti itu?

Tak bisa disalahkan jika anggapan publik belum bergeser. Sebagian besar masih beranggapan, Bonek Mania masih menakutkan. Namun untuk mencermati fenomena anggapan itu, ada baiknya menilik beberapa fakta yang muncul belakangan ini. Minimal, fakta dalam lima bulan terakhir ketika Persebaya hadir di kompetisi Shopee Liga 1 2019.

Bonek memang tetap militan. Mereka datang ke Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) dalam jumlah yang banyak. Tidak lagi hitungan ratusan, namun angkanya sudah ribuan.

Lebih dari itu, mereka sangat kritis pada manajemen Persebaya Surabaya. Jika performa tim menurun, Bonek tak ragu-ragu menyuarakan protesnya. Ada apa dengan Persebaya? Begitu kira-kira pesan penting yang disampaikan untuk petinggi-petinggi Persebaya.

Sebaliknya, jika performa Bajul Ijo menanjak dan mudah mendulang kemenangan, dukungan ke penampilan Otavio Dutra dkk tak ada habisnya. Jangankan di laga kandang, di pertandingan tandang pun, kelompok suporter yang identik dengan warna hijau itu, akan datang dengan segala atribut dan ciri khasnya.

Gayung bersambut. Di luar itu, ada sisi menarik yang berubah dari Bonek Mania belakangan ini. Di balik militansi dan sikap kritisnya yang tetap luar biasa, di luar lapangan, mereka banyak menunjukkan contoh yang positif. Terutama dalam hal kepedulian sosial. Ya, kepedulian sosial.

Khusus yang satu ini, apa yang ditunjukkan Bonek Mania tak ubahnya organisasi sosial yang peduli pada beragam kasus di masyarakat. Tanpa ada iming-iming komersil. Murni untuk social activity.

Contohnya, tengok pada bulan Maret lalu. Pada pertandingan Piala Presiden 2019, ribuan boneka terkumpul. Boneka-boneka itu sengaja dikumpulkan dari Bonek Mania yang datang ke stadion dan untuk disumbangkan ke anak-anak penderita kanker.

Menariknya, penyaluran sumbangan boneka tersebut, tak hanya di Surabaya. Namun beberapa kota lain di sekitar Surabaya. Bahkan, pada medio Juli lalu, bersama komunitas suporter seperti Brajamusti, Maident, BCS, Slemania, Paserbumi dan CNF Persiba, Bonek Mania membagikan boneka tersebut ke anak-anak penderita kanker di Yogyakarta.

Tak cuma itu. Bonek Mania juga memiliki panti asuhan. Rencananya panti asuhan itu akan diresmikan pada 9 September 2019. Saat ini, bangunan panti asuhan tersebut sudah mencapai 95 persen. “Setelah selesai, kami akan mengundang sekitar 11 anak yatim piatu di sekitar surabaya untuk menghuni tempat tersebut. Soal pembiayaan per bulannya nanti, kami ambilkan dari donator tetap dan sumbangan dari kafe-kafe yang dimiliki oleh Bonek Mania,” jelas Eko Hadi Susanto, pentolan Bonek yang juga ketua Yayasan Wani Sobo Panti, Selasa (6/9).

Diuntungkan Keadaan
Sepak bola Indonesia pernah mengalami masa yang miris. Salah satunya pada periode 2010-an. Ketika itu, muncul dualisme di kompetisi Indonesia. Apa lacur, Persebaya Surabaya termasuk salah satu yang kena dampaknya. Ada dua klub papan atas di Surabaya. Keduanya mengatasnamakan Persebaya.

Kondisi ini membuat Bonek Mania gamang. Tapi di sisi lain, ternyata malah mendewasakan Bonek. “Banyak rekan-rekan yang biasanya berkumpul nonton pertandingan, akhirnya vakum. Hal itulah, kami akali dengan melakukan banyak kegiatan. Salah satunya kegiatan sosial yang langsung menyentuh publik,” terang Cak Tulus, salah satu dedengkot Bonek, Rabu (7/9).

Dalam perjalanannya, kegiatan sosial itu punya dua manfaat. Pertama, untuk mengumpulkan sesama anggota Bonek Mania. Ada hajatan yang membuat mereka bisa selalu berkumpul. Kedua, menunjukkan kedekatan Bonek Mania dengan masyarakat. “Kami berusaha untuk mengubah stigma publik soal Bonek Mania. Kami bukan lagi komunitas yang suka bikin onar,” tambah Cak Tulus.

Pakar antropologi dari Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Dr. Paschalis Maria Laksono, M.A. menyebut apa yang sudah dilakukan Bonek Mania itu merupakan langkah yang luar biasa. “Tidak mudah bagi kelompok atau seseorang untuk melawan kecenderungan hati. Dari yang awalnya mereka melakukan apa pun yang sesuka sendiri, saat ini berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang atau kelompok lain. Ini inisiatif yang patut disyukuri,” jelas Prof. Dr. Paschalis Maria Laksono, M.A.

Lebih lanjut, sosok yang pernah memperoleh Scholar in Residence Award dari Fulbright untuk mengajar Antropologi Politik dan Antropologi Agama di Lafayette College, Easton, Pennsylvania, Amerika Serikat itu menyebut apa yang sudah dilakukan Bonek tersebut bisa menjadi pemicu bagi kelompok suporter yang lain.

“Dari prespektif sosial, persoalan dan pengalaman yang dialami suporter, sebagian besar sama. Bonek Mania sudah melewati ‘kelokan’ tersebut. Ada momentum tepat yang membuat mereka berubah. Ini bisa menjadi contoh positif bagi kelompok lain,” ucap Guru Besar Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada tersebut.

Jelas sudah. Bonek Mania telah mengalami metamorfosis. Mereka tetap berusaha menjadi suporter yang militan. Lalu, menjulang sebagai komunitas yang cinta damai. “Kami meyakini pada akhirnya publik akan memahami Bonek Mania yang sebenarnya,” pungkas Cak Tulus.

Semoga.