Ardi Bek Kiri Konvensional Terbaik Saat Ini

Selasa, 23 Oktober 2018 16:07 WIB

“Meski sepakbola olahraga sederhana, bukan perkara mudah memainkan sepakbola dengan cara sederhana.” Ujar legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff.

Memang benar adanya, dalam pertandingan sepakbola siapa yang paling banyak menjaringkan bola di gawang lawan mereka pemenangnya. Sesederhana itu tapi tak mudah dilakukan. Untuk mencapai itu perlu adanya taktik, kerjasama antar sebelas pemain, hingga faktor psikologis pemain di lapangan pun mempengaruhi hasil pertandingan.

Sebelas pemain di lapangan menempati posisinya masing-masing sesuai dengan formasi dan taktik yang dikehendaki pelatih. Belakang ini banyak pelatih yang menerapkan formasi 4-4-2 atau 4-2-3-1. Formasi ini merupakan formasi sepakbola modern yang disinyalir mempunyai keseimbangan dalam menyerang maupun bertahan.

Tim-tim yang berkompetisi di liga 1 Indonesia pun ikut ambil bagian untuk mengadopsi formasi ini. Meskipun dalam banyak keterbatasan, baik secara kualitas pemain ataupun hal non teknis lainnya. Dalam formasi ini ada posisi yang cukup menarik, yaitu bek kiri. Pada era 3-5-3, posisi ini tidak ada karena lini pertahanan dihuni oleh tiga bek sejajar (libero, dua bek tengah). Posisi ini baru ada ketika menerapkan formasi empat bek sejajar. Untuk menempati posisi bek kiri/kanan diperlukan stamina, intelegensi dan kemampuan mengolah bola di atas rata-rata.  

Bek kiri, sesuai namanya, adalah pemain belakang (bek) yang bertugas untuk menopang kekokohan lini kiri pertahanan. Kenapa menopang? Karena lini pertahanan dibangun oleh tiga sampai lima pemain yang membentuk satu barisan disesuaikan dengan taktik yang dipakai pelatih.

Di era sepakbola modern, pemain bek kiri bukan hanya dituntut untuk menjaga lini pertahanan saja, tapi diharapkan dapat membantu tim ketika melakukan serangan. Dengan seperti ini opsi serangan akan lebih banyak dan bervariasi. Maka peluang untuk menciptakan gol akan lebih besar.   

Dengan bek kiri yang sering naik akan menimbulkan lubang kecil di lini pertahanan. Terlebih jika terjadi serangan balik. Untuk menutupi kelemahan ini, pemain gelandang bertahan akan mengisi kekosongan di posisi bek kiri, dan menutup alur bola sebelum lawan mendistribusikan bola ke arah kiri pertahanan.

Namun seringkali yang jadi masalah adalah ketika terjadi serangan balik, bek kiri terlambat untuk balik ke posisinya, gelandang bertahan gagal mendelay permainan atau pun buruknya transisi dari menyerang ke bertahan. Hanya tim-tim besar yang memiliki pemain kualitas di atas rata-rata yang bisa menyeimbangkan menyerang dan bertahan. 

Jika melihat permainan tim-tim Indonesia, rata-rata memakai lebar lapangan untuk membongkar lini pertahanan lawan. Dengan permainanan melebar diharapkan adanya ruang kosong di tengah pertahanan lawan yang bisa di tembus dengan umpang silang atau cut in side.

Balik lagi ke soal bek kiri. Bahwa tim-tim Indonesia masih belum menemukan/menciptkan pemain bek kiri modern. Kebanyakan dari pemain kita hanya menguasai cara bertahan atau pun cara menyerang. Untuk saat ini, jika ditanya siapakah bek kiri terbaik yang dimiliki tim-tim Indonesia, saya akan menjawab Ardi Idrus. Kenapa saya memilih Ardi, karena ada beberapa aspek dan potensi yang dimiliki Ardi  untuk meningkatkan permainannya menjadi pemain wahid. 

Tahun ini merupakan debut pertamanya di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Sebelumnya dia hanya bermain di liga 2. Tak heran jika ada keraguan dari para pendukung Persib ketika Ardi Idrus mengisi pos bek kiri.

Lambat laun dengan pasti Ardi Idrus merebut posisi inti menggeser Tony Sucipto yang mulai habis dimakan usia. Bahkan kini Ardi menjadi pemain dengan jumlah tekel sukses terbanyak yang bisa dilihat dari statistik liga-indonesia.id.

Kelebihan yang dimiliki Ardi adalah pengambilan keputusan untuk mengambil tackle dan memutus serangan lawan. Tak jarang kita melihat Ardi sudah kalah langkah, namun di detik pemain lawan akan mengoper atau menembak, Ardi selalu bisa memblocknya. Secara bertahan Ardi tidak mudah ditembus, dan mempunyai semangat bertarung untuk mempertahankan bola atau merebut bola.

Banyak pemain sayap yang harus bersusah payah untuk melewati Ardi Idrus. Terlebih Ardi punya kelebihan untuk menempel pemain lawan tanpa memberi celah dan pengambilan keputusan yang tepat. Tackel-tackelnya pun terbilang bersih.

Dalam urusan menyerang Ardi Idrus belum sama baiknya. Sebab bukan perkara mudah untuk melakukan itu, terlebih gaya permainan tim-tim Indonesia yang masih konvensional. Jika kita kembali melihat fitrah seorang bek kiri, ia mempunyai tugas pokok untuk menjaga pertahanan. Karena untuk urusan penyerangan sudah ada gelandang serang, sayap dan striker. Dan Ardi sudah menuntaskan tugak pokoknya secara baik.

Lantas timbul pertanyaan, apa mungkin Ardi melakukan serangan baik? Saya jawab bisa. Saat ini Ardi Idrus cukup beruntung bisa setim dengan Supardi Nasir. Seperti yang kita tahu Supardi Nasir adalah bek kiri yang bisa melakukan serangan sama baiknya dengan bertahan. Namun karena usia mulai senja, kita jarang melihat aksi ini lagi. Terlebih setelah partner sehatinya M. Ridwan tidak lagi bermain dalam satu tim. Ardi bisa menjadikan Supardi Nasir sebagai mentor untuk perkembangan karirnya.

Dalam beberapa kesempatan kita sesekali melihat Ardi melakukan overlap. Meskipun pada percobaan-percobaannya tidak terlampau sukses, namun ada beberapa kali percobaan yang bisa dihitung jari berhasil merusak kerapatan pertahanan lawan.

Ardi pun harus mulai berlatih melakukan passing atau pun melakukan cut in side ke jantung pertahanan lawan. Sesekali variasi gaya permainan ini dibutuhkan jika pemain sayap dimatikan. Ardi pun tergolong dalam pemain yang staminanya mentereng. Stamina yang joss ini akan sangat menunjang untuk melakukan akselerasi serangan atau pun trackback.

Ardi Idrus saat ini merupakan bek kiri konvensional yang masih banyak dibutuhkan oleh tim-tim Indonesia. Dengan pertahanan yang baik akan membuat pemain dengan tipikal menyerang nyaman dalam menyusun serangan demi serangan.

Rulfhi Alimudin gemar menulis sepakbola, catatan perjalanan, bisa ditemui di twitter @rulfhi_rama

Penulis: Rulfhi Alimudin

Berita Terkait